Wednesday, 24 July 2013

Padahal

padahal sebenarnya, kau sudah mempermainkan hati perempuan itu sejak awal.
kau lupa. mungkin memang tak punya waktu menyadarinya.
padahal sebenarnya, perempuan itu yang lebih dulu jatuh cinta.
kau lupa. memang sengaja melupakannya. mungkin saja.

jadi jangan salahkan ia
yang sekarang bahagia.
melebihi kisah yang kau tulis di buku-buku kenangan itu
lalu berkata padanya, "berbahagialah..."
kau bilang karena kerap mencemaskan dirinya.
bagaimana kalau ia luka. bagaimana saat ia menangis. bagaimana saat kabut turun di matanya.

padahal ia bahagia.

percayalah.
saat kau percaya, saat itu pasti, kau telah termaafkan.
dan terlupakan.
maka lupakanlah...

from here

Monday, 8 July 2013

Esok

Kabarnya, Ramadan datang esok hari.
Saya di sini, masih saya yang biasa. Masih pemalas. Masih suka mengantuk saat memasak. Masih suka mengulur waktu bangun kemudian batal tahajjud sebelum sahur.

Saya harap saya membaik. Bersama kalian, menghitung jam demi jam. Beriringan menuju masjid. Saya bersyukur. Entah apa jadinya andai kita dulu tak dipertemukan.


from here

Wednesday, 26 June 2013

Sometimes

Kadang saya mikir, mungkin orang yang menutup diri itu hidupnya lebih tenang. Walaupun dia dikatain antisosial. Aneh. Tapi dia nggak terganggu sama orang-orang di sekelilingnya. Dia bisa memilih dengan siapa ia bicara. Dengan siapa mau tersenyum. Dia memilih orang-orang tertentu yang walaupun sedikit, membuatnya nyaman. Bisa menutup pintu rapat-rapat dan asyik dengan dunia sendiri. Tak perlu ikut tertawa saat orang lain tertawa, dan tetap diam saat orang lain bicara.

Dan saya, kadang juga ingin seperti itu.


from here

Tuesday, 25 June 2013

Review: The Coffe Memory

saat aroma kopi itu menjauh,
kusadari bahwa kau tak mungkin kutemui lagi.
seperti aromamu yang terempas oleh butir udara,
meninggalkanku dalam sunyi yang dingin.

sampai kusadari kau hadir, menyergapku dalam diam,
mengembalikanku dalam kenangan.
dan, menabur aroma yang sama dengan apa yang telah kutinggalkan.
ketika itu aku pahami,
aku tak mungkin berpaling lagi.


Judul : The Coffee Memory, Ketika Aroma Cintamu Menyergapku
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka (Pustaka Populer)
ISBN : 978-602-7888-20-3
Harga : Rp39.000,-
(keterangan nyontek di reviewnya mas Rizki)

Kemarin ditodong mas Rizki buat review novel ini, yah karena dianya juga yang merekomendasikan The Coffe Memory yang menurutnya pas dengan apa yang saya cari: novel dewasa yang tidak meninggalkan ke-Islaman tapi juga nggak Islami banget alias nggak bertabur kutipan ayat dimana-mana. Halah. xD

Saya suka bungkusnya yang unik, seperti kopi beneran. Dan isinya buku bersampul penuh kopi pula. Walaupun nggak gitu suka sama warna emas pada tulisan judulnya karena silau dan nggak terlalu kelihatan karena berlatar coklat.

Dania, wanita penggemar kopi yang baru saja ditinggalkan suaminya dan mendadak harus melanjutkan kehidupan di kafe yang dipenuhi banyak kenangan. Kenangan tentang suami yang telah tiada ini membuat saya teriris perih. Rasanya ikutan sedih beneran. Nah, kafe penuh memory inilah yang akhirnya mempertemukan Dania dengan Barry, barista keren yang sangat perhatian padanya, dan Pram, seorang lelaki di masa lalunya. Kedua lelaki ini sempat membuat Dania galau karena keduanya sama-sama jatuh cinta padanya. Yah, walaupun akhirnya dia memilih satu saja. *Yaiyalahhh xDD*

Walapun di bab awal saya sempat bingung karena alur yang maju-mundur, tapi akhirnya bisa menikmati sampai akhir.

Saya suka cara mbak Ria menggambarkan nikmatnya kopi hitam. Saya yang sama sekali nggak doyan, jadi bisa membayangkan enaknya lho... :D Suka dengan bagaimana hubungan antar lawan jenis dituliskan: mereka nggak pacaran, dan hampir nggak ada adegan kontak fisik di sana (ada tapi ceritanya si wanita menolak disentuh). Di beberapa bagian kadang saya merasa bahwa ini ditulis dengan buru-buru (sok tau xD)tapi tetap saja penasaran membuka lembar demi lembarnya. Oya, info-info dunia bisnis dan dunia kopi bertebaran di novel ini, membuat saya yang penggemar teenlit akut ini melongo takjub *halah*.

Mungkin saya akan baca buku si mbak yang lain, karena sejujurnya saya pengen juga nulis tentang kisah suami-istri gitu, tapi tetap dengan santun. Yah, kayak di novel ini misalnya.

Selamat berkarya ya Mbak Ria.
Maaf ye... ini pertama kali bikin ripiu, jadi harap maklum kalo aneh. Haha... xDD

Friday, 21 June 2013

Berhenti Sejenak

nulis ya nulis. revisi ya revisi.
impian ya impian.
tapi kalau terdengar adzan, berhentilah sejenak.
salatlah dan memohonlah.
karena besok-besok kalau kau mati, kau tidak bisa menulis apa-apa lagi.
dan malaikat tidak sudi menanyakan berapa banyak novel yang kau buat.

==REMINDER FOR MYSELF==