Tadi pagi, saat makan di warung pecel langganan sejak penganten baru dulu, saya bertemu seorang wanita cantik. Ia memakai kemeja kotak-kotak ketat, rok sepan hitam ketat, stocking, sepatu highheels, rambut tersanggul rapi dan menenteng tas hitam berukuran sedang. Wanita ini datang bersama teman-teman prianya, kayaknya sih mereka dari sekolah pramugari atau entah pegawai hotel di dekat situ. Melangkah tertatih-tatih di tanah berbatu yang nggak rata, wanita ini tampak repot mencari pegangan. Saya sempat mikir, dengan dandanan begitu kenapa nggak makan di resto yang lantainya alus biar nggak berkali-kali pengen jatuh?
Ketika mau duduk, karena roknya sangat sempit, ia harus berpegangan pada seorang teman prianya, hati-hati sekali menjulrkan kakinya ke kolong meja panjang khas warung pinggiran. Saat pecelnya datang, mbak ini makan dengan perlahaaan sekali. Ia hanya menggunakan tiga jarinya untuk memegang sendok, sementara jari manis dan kelingking dibiarkan bebas sehingga terlihat anggun. Ibu jarinya dibikin bengkok saat memegang sendok, jadinya seperti di pilem-pilem Barbie yang sering saya tonton sama Alin itu penampakannya. Ngomong-ngomong itu yang disebut table manner-kah? Hehe...
Betapa repotnya.
Saya jadi ingat, waktu muda dulu, saya juga pengen cantik. Ingin menjadi pusat perhatian layaknya orang-orang cantik itu. Yah, namanya juga anak perawan, saya juga termasuk yang aneh-aneh tingkahnya. Seolah sebagai orang cantik, semua hal jadi lebih mudah dilakukan. Padahal ternyata, nggak selalu begitu, ya? :D
Sekarang, saya bisa makan lahap tanpa peduli kanan-kiri. Pakai sendok yang caranya biasa aja. Kalau keluar cukup pakai Parasol sama bedak tabur murahan dan lipstik sheer yang biasanya ilang dalam satu jam. Saya paling nggak tahan pakai hak tinggi, pegel di kaki. Pakai itu hanya waktu nikah, itu pun karena terpaksa, dan hampir jatuh pula.
Mbak cantik yang saya lihat tadi, mungkin sebenarnya nggak merasa repot. Sayanya aja yang karena nggak pernah dalam posisi dia, merasa itu repot. Mungkin, ya... :D Kan dia sudah terbiasa seperti itu, sudah merasa nyaman dengan caranya sendiri. Seperti halnya saya nyaman dengan gaya serampangan saya selama ini. Ahahaha...
*yang paling nyaman adalah saat menerima diri sendiri. Walau tidak cantik, walau tidak anggun. Yang penting tidak repot. :D
![]() |
| here |
Ketika mau duduk, karena roknya sangat sempit, ia harus berpegangan pada seorang teman prianya, hati-hati sekali menjulrkan kakinya ke kolong meja panjang khas warung pinggiran. Saat pecelnya datang, mbak ini makan dengan perlahaaan sekali. Ia hanya menggunakan tiga jarinya untuk memegang sendok, sementara jari manis dan kelingking dibiarkan bebas sehingga terlihat anggun. Ibu jarinya dibikin bengkok saat memegang sendok, jadinya seperti di pilem-pilem Barbie yang sering saya tonton sama Alin itu penampakannya. Ngomong-ngomong itu yang disebut table manner-kah? Hehe...
Betapa repotnya.
Saya jadi ingat, waktu muda dulu, saya juga pengen cantik. Ingin menjadi pusat perhatian layaknya orang-orang cantik itu. Yah, namanya juga anak perawan, saya juga termasuk yang aneh-aneh tingkahnya. Seolah sebagai orang cantik, semua hal jadi lebih mudah dilakukan. Padahal ternyata, nggak selalu begitu, ya? :D
Sekarang, saya bisa makan lahap tanpa peduli kanan-kiri. Pakai sendok yang caranya biasa aja. Kalau keluar cukup pakai Parasol sama bedak tabur murahan dan lipstik sheer yang biasanya ilang dalam satu jam. Saya paling nggak tahan pakai hak tinggi, pegel di kaki. Pakai itu hanya waktu nikah, itu pun karena terpaksa, dan hampir jatuh pula.
Mbak cantik yang saya lihat tadi, mungkin sebenarnya nggak merasa repot. Sayanya aja yang karena nggak pernah dalam posisi dia, merasa itu repot. Mungkin, ya... :D Kan dia sudah terbiasa seperti itu, sudah merasa nyaman dengan caranya sendiri. Seperti halnya saya nyaman dengan gaya serampangan saya selama ini. Ahahaha...
*yang paling nyaman adalah saat menerima diri sendiri. Walau tidak cantik, walau tidak anggun. Yang penting tidak repot. :D





