karena kita tidak berada di taman yang sama maka rumput tetangga terlihat lebih hijau. karena kita tidak tahu mungkin di taman itu banyak ulat bergigi rapat pemangsa daundaun. karena kita tidak melihat mungkin ada kubangan air yang bisa merendam akar-akar hingga membusuk. karena juga, kita tidak jeli melihat taman kita sendiri. mengamati indahnya embun pagi di rerumputan. atau tunas bunga desember yang sedang belajar tumbuh.
Thursday, 22 November 2012
Sunday, 16 September 2012
Jingga

tidak ada yang bisa kutuliskan tentangmu, jingga...
karena malam telah larut dan sunyi telah kembali.
mungkin nanti kita dapat bertemu di suatu pagi
ketika embun masih sebening biasanya
dan bungabunga soka mulai membuka mata.
mungkin saja.
Sunday, 2 September 2012
Sunday, 26 August 2012
Kunang-kunang
Tiap kali melihat kunang-kunang, aku teringat padamu. Pada masa kita berlarian di pematang sawah. Mengejar layang-layang, menghitungi bintang-bintang di malam purnama. Aku masih saja teringat padamu meski kunang-kunang terakhir telah pergi dari hadapanku malam ini. Aku masih saja mencintaimu seperti kunang-kunang jatuh cinta kepada malam.
***
Di depan sebuah makam ia meletakkan tiga tangkai bunga desember.
“Aku sudah memberimu bunga desember setiap bulan November dimana bunga-bunga desember bermekaran. Tapi kau tetap saja membawa hatinya. Kenapa?”
Aku mendengar suaranya dari bawah pohon kamboja. Suaranya bergetar dan wajahnya begitu sedih.
“Kenapa dia tidak pernah melupakanmu, padahal kau sudah mati?”
Dia selalu bertanya kenapa. Sama sepertiku yang tak tahu mengapa aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Padahal benar, kau sudah pergi jauh. Begitu jauh sampai tak mungkin kulihat lagi. Dan kenapa kau harus pergi, Ryu?
Ia pergi sambil sesekali menoleh ke arah makammu. Dan aku berharap hujan turun agar aku tidak melihat airmatanya lagi kali ini. Tapi ia menemukanku di bawah bayangan kamboja.
“Alina,” ujarnya seraya mendekat. “Maaf.”
Matanya begitu sedih saat melewatiku. Serupa matamu saat kunang-kunang yang dulu kita tangkap terbang untuk menyatakan cintanya kepada malam.
Aku menatap makammu dan mendapati bunga desember itu. Kita pernah bersama-sama menanam bunga yang sama dulu. Aku, kau, dan dia. Bersama-sama menghabiskan masa kecil yang penuh kenangan. Yang saat dia pergi meraih mimpinya ke kota, kita lantas saling jatuh cinta. Membiarkannya pergi, melupakannya tanpa tahu betapa ia diam-diam mencintaiku. Sama seperti kunang-kunang yang jatuh cinta kepada malam.
***
***
Di depan sebuah makam ia meletakkan tiga tangkai bunga desember.
“Aku sudah memberimu bunga desember setiap bulan November dimana bunga-bunga desember bermekaran. Tapi kau tetap saja membawa hatinya. Kenapa?”
Aku mendengar suaranya dari bawah pohon kamboja. Suaranya bergetar dan wajahnya begitu sedih.
“Kenapa dia tidak pernah melupakanmu, padahal kau sudah mati?”
Dia selalu bertanya kenapa. Sama sepertiku yang tak tahu mengapa aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Padahal benar, kau sudah pergi jauh. Begitu jauh sampai tak mungkin kulihat lagi. Dan kenapa kau harus pergi, Ryu?
Ia pergi sambil sesekali menoleh ke arah makammu. Dan aku berharap hujan turun agar aku tidak melihat airmatanya lagi kali ini. Tapi ia menemukanku di bawah bayangan kamboja.
“Alina,” ujarnya seraya mendekat. “Maaf.”
Matanya begitu sedih saat melewatiku. Serupa matamu saat kunang-kunang yang dulu kita tangkap terbang untuk menyatakan cintanya kepada malam.
Aku menatap makammu dan mendapati bunga desember itu. Kita pernah bersama-sama menanam bunga yang sama dulu. Aku, kau, dan dia. Bersama-sama menghabiskan masa kecil yang penuh kenangan. Yang saat dia pergi meraih mimpinya ke kota, kita lantas saling jatuh cinta. Membiarkannya pergi, melupakannya tanpa tahu betapa ia diam-diam mencintaiku. Sama seperti kunang-kunang yang jatuh cinta kepada malam.
***
Monday, 23 July 2012
Payung
kaubilang hujan masih perawanketika aku datang
dan buih-buih lindap di balik pagar
mencari detak sunyimu.
kaubilang petir begitu dalam mengenali hatimu
yang bagai patung hidup: diam namun bernyawa; diam dan tak bisa terluka
ah, apakah itu maksud ceritamu?
bahwa luka-luka tak lagi berharga
saat aku datang membawakan mendung untukmu
menghadapi petirmu, dan tirai-tirai putih yang membukakan pintu menuju diam.
(apakah aku masih belum pantas
menjadi payungmu?)
Sabtu, 25 April 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)


