Showing posts with label dunia emak. Show all posts
Showing posts with label dunia emak. Show all posts

Wednesday, 20 November 2013

Mengingat-ingat Lagi

Entah bagaimana awalnya, hari ini saya sms-an dengan seorang teman. Dari cerita soal kehamilan saya sampai kerepotan kami sebagai emak-emak. Dan... ujung-ujungnya saling mengeluhkan banyak hal. Merasa diri paling malang dan lelaki adalah makhluk yang enak-enak saja hidupnya karena nggak harus begini-begitu.

Hingga saya membuka lagi ingatan tentang bagaimana seharusnya seorang istri. Bagaimana harusnya seorang suami. Mencari-cari lagi seperti apa tanggung jawab seorang lelaki di hadapan Allah kelak. Ternyata banyak sekali. Ternyata nggak semudah itu, nggak seENAK itu.

Pada akhirnya saya harus mengingat-ingat lagi. Di rumah inilah saya menjemput pahala. Dari tumpukan baju kotor dan piring yang berantakan. Dari rengekan si kecil dan kesibukan suami mengais rezeki hingga kadang membuat saya merasa tersisih. Dari aroma masakan yang sering melekat di badan. Dari tangan yang beranjak kasar dari waktu ke waktu. Dari tubuh yang semakin terasa lemah seiring membuncitnya rahim. Dari seberapa banyak makanan yang saya muntahkan dan berapa banyak waktu yang saya habiskan di kamar mandi hanya karena mual-mual. Dari janji-janji yang terus saya ingat dan belum dipenuhi karena banyak alasan.

Hanya karena saya disayang Allah, maka saya merasakannya. Tidakkah saya beruntung? Dan, pantaskah saya mengeluh?

"Tidak patut manusia bersujud kepada manusia, andai manusia boleh bersujud kepada manusia, maka aku perintahkan kepada wanita bersujud di depan suaminya, mengingat besarnya hak suami atas istri. Demi dzat yang jiwa ragaku berada dalam genggaman tangan-Nya, andaikata sekujur tubuh suami, dari kepala sampai kaki penuh dengan luka yang berdarah dan bernanah, lalu sang istri menjilatinya, dia belum dapat melunasi haknya.” (HR. Ahmad)


Friday, 27 September 2013

Serangan Debu

Dua bulan terakhir ini saya galau karena serangan debu yang wow banget. Karena jalan depan rumah belum dikeraskan, maka tiap ada motor ada mobil lewat, wuuuussshhh debunya terbang masuk rumah. Emang sih pintu selalu saya tutup tapi nyatanya lantai rumah yang barusan dipel pun dengan cepat berdebu lagi. Daun-daun di pinggir jalan pun sudah tidak hijau lagi, mereka menjelma dedaun coklat pekat yang nggak enak dilihat.

Daerah sini beda dengan daerah di kampung saya yang saat kemarau panjang tanahnya merekah alias mlethek-mlethek dan nggak terlalu banyak debu. Di tanah berpasir ini, debunya lumayan mengerikan. 

Dan semalam sebelum tidur, Alin panas. Panik sih karena hanya punya bodrexin di kotak obat dan dia nggak doyan. Akhirnya semalaman saya susah tidur, memegang tangannya takut panasnya terus naik dan berakibat nggak baik. Tapi syukurlah nggak ada yang terjadi sampai pagi datang, kecuali Alin yang terus mengigau, nggak seperti biasanya. Paginya langsung kami bawa ke bidan, dan benarlah bu bidan bilang, hati-hati dengan debu. Apalagi kami tinggal di jalur delman, dengan kotoran kuda yang mengering di jalan-jalan, katanya itu sangat berbahaya bila terhirup.

Ya sudahlah, untungnya Alin gampang minum obat meskipun makannya akan susah selama sakit.
Wahai hujan, cepatlah datang...

from here