Showing posts with label saat ini.... Show all posts
Showing posts with label saat ini.... Show all posts

Thursday, 9 January 2014

Mencintai Versi Saya

Hari Minggu kemarin saya sakit. Mendadak pusing hebat di pagi hari, dunia rasanya berputar saat saya bergerak. Saat itu, abi baru saja berangka futsal. Alin belum bangun, saya memaksakan diri bangkit dan memasak bubur mutiara untuk sarapan. Saya pikir, setelah sarapan mungkin akan membaik. Ternyata belum. Saya malah muntah-muntah dan makin pusing, kedinginan.

Saya lalu bbm abi dan bilang saya sakit. Baru dibalas satu jam kemudian, setelah futsal selesai. Abi bilang akan langsung pulang.

Abi datang saat saya muntah-muntah dan nyaris ambruk. Sungguh nggak tahu sakit apa itu. Hingga akhirnya, saya dipapah ke kasur, disuapi, dilayani seperti orang sakit beneran. Alin juga berkali-kali menciumi saya, bilang "Aku sayangggg banget sama ummi..."

Hari itu saya hanya tiduran dan makan. Abi memandikan Alin, mengambil baju di laundry, cuci piring, dan memasak kolak sendiri, karena malam sebelumnya saya yang janji mau memasakkannya kolak.

Anehnya saat mendengar dentingan piring yang dicuci abi, hati saya sakit rasanya. Berpikir kenapa harus abi yang cuci piring? Kenapa harus abi yang mengurus Alin hari itu? Saya rasanya nggak rela. Harusnya saya yang melakukan itu semua. Harusnya hari itu abi liburan, futsal, tiduran, dan menikmati masakan saya sambil bermain bersama Alin.

Lalu teringat dulu, waktu saya iseng nerima tawaran ngedit naskah di rumah. Saat itu, saya harus ngedit di atas jam sepuluh malam karena nggak mungkin buka laptop saat Alin belum tidur. Juga, menunggu abi rampung memakai laptopnya karena baru punya satu laptop.

Di hari kesekian, abi bilang sama saya, "Umi nggak usah ngedit lagi, sampai begadang kayak gitu. Yang nyari uang abi aja, udah tugas abi. Umi di rumah aja, jadi ibu dan guru bagi Alin. Abi nggak tega lihat umi sampai nggak tidur begitu cuma buat uang beberapa ratus ribu."

Sejak saat itu, saya nggak ngedit lagi. Memang tersiksa sih, harus begadang begitu. Belum lagi sebentar-sebentar ditanya sama yang punya naskah: udah sampai halaman berapa? Saya jadi tertekan lahir batin rasanya. *halah

Abi tetap membiarkan saya menulis, karena memang hobi dan nggak ada yang mengejar-ngejar kapan selesainya kan? 

Lalu saya mikir, mungkin yang saya rasakan saat sakit, sama kayak yang abi rasakan saat saya begadang mengedit. Betapa saat sakit itu, saya pengen cepat-cepat sembuh, biar abi nggak usah cuci piring lagi. Biar saya bisa masak lagi. Biar abi nggak melakukan apa yang biasanya saya lakukan. Mungkin saya memaknai 'cinta' dengan ini. Beda banget sama waktu muda dulu, waktu saya masih suka pacaran. Sekarang kalau dipikir, saya dulu pacaran itu konyol banget ya? "Cinta" yang saya sebut-sebut saat pacaran dulu, ternyata dangkal dan picisan banget. Malu sekali mengingatnya. Apalagi, toh nggak satu pun di antara mantan pacar saya yang akhirnya melamar saya. Haha...

Alhamdulliah, terimakasih Allah, telah memberikan jodoh yang baik dan keluarga yang hangat untuk saya. :)


from here





Tuesday, 10 December 2013

Telanjur Cinta, Hatiku Berhenti di Hatimu


Penulis: Anita Sari & Kusumaningtyas
Penyunting: Gari Rakai Sambu

Penerbit: Eazy Book
Ukuran: 13 x 19 cm

Tebal: 208 halaman

ISBN: 978-602-7702-19-6
Harga: Rp35.000,- *)
“Kalau aku bilang, hidupku nggak akan lama lagi, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu, apa kamu rela melupakan Shone untukku?” tanya Nando tiba-tiba.
                                                      ***
Bagaimana rasanya saat orang yang terlanjur kita cintai lebih memerhatikan orang lain? Perasaan terabaikan itu harus dikecap Ishky ketika ia bertemu dengan Nando. Namun bukan pada Nando ia jatuh hati. Rasa itu tertuju pada Shone, sahabat dekat Nando. Orang yang tak pernah menganggap Ishky ada.
Ini kisah tentang rumitnya hati. Tentang rasa cinta yang bisa dengan mudah muncul, lalu lenyap sekejap mata, tanpa bisa hati mengerti.
Akankah takdir berpihak pada Ishky?


Friday, 21 June 2013

Kisah Dari Balik Jendela

Dari Balik Jendela adalah novel yang saya tulis berdua dengan seorang teman, kakak kelas waktu SMA, mbak Tyas atau sering saya panggil yayank. Eitss, jangan dikira lesbong loh yaa...

Dalam beberapa bulan ke depan InsyaAllah novel ini terbit. Sedang direvisi untuk dipendekin jadi maksimal 140 halaman saja dan kami mendadak puyeng karena lebih baik mengembangkan cerita daripada mengkerdilkannya. *halah*

Yang paling saya ingat adalah ketika Mbak Tyas menulis bab-bab novel itu dalam loose leaf, lalu lembaran-lembaran itu dikirim lewat pos ke saya. Oh iya ceritanya mbak Tyas tinggal di Wonogiri dan saya di Jogja. Paling ingat bagaimana saya mengetik tulisan itu di laptop pinjaman dari suami sementara suami saya pakai laptop milik kantor. Kerasa banget perjuangannya. Dan yang terasa berat itu selalu lebih terasa berharga.

Saya bersyukur naskah ini langsung diterima seminggu setelah dikirim. Walaupun memangkas halamannya membuat kami agak puyeng. Tapi sekali lagi, yang terasa berat itu selalu lebih terasa berharga.


Thursday, 22 November 2012

Perihal Rumput

karena kita tidak berada di taman yang sama maka rumput tetangga terlihat lebih hijau. karena kita tidak tahu mungkin di taman itu banyak ulat bergigi rapat pemangsa daundaun. karena kita tidak melihat mungkin ada kubangan air yang bisa merendam akar-akar hingga membusuk. karena juga, kita tidak jeli melihat taman kita sendiri. mengamati indahnya embun pagi di rerumputan. atau tunas bunga desember yang sedang belajar tumbuh.