Tuesday, 28 January 2014

Trotoar (cerita pendek)


“Mampir, Mas,” Lastri akhirnya menyapa laki-laki berkaca mata itu.

Ini sudah hari kesekian ia melihat lelaki itu melintas di trotoar tempat ia dan ibunya berjualan pecel lele. Tiap jam lima sore, lelaki itu lewat dengan kepala menunduk menerobos tenda yang sedang didirikan. Ia menerobos ke atas trotoar, melewati bangku-bangku panjang milik Lastri yang biasanya sedang mengiris-iris lalapan. Cukup mengherankan karena orang-orang umumnya akan lewat di sisi jalan raya, bukannya menerobos ke dalam tenda seperti lelaki itu.

“Mampir, Mas, makan,” Lastri semakin nekat. Padahal ia sendiri tahu dagangannya belum siap.

Baginya lelaki itu aneh. Ia mengenakan kemeja yang digulung sampai ke siku dengan ransel hitam dan sepatu mengkilat. Lastri yakin ia bekerja di salah satu perkantoran di sekitar situ. Aneh karena ia tidak pernah tersenyum dan tatapan matanya sangat dingin.

Lelaki itu berhenti dan memerhatikan gadis delapan belas tahun di hadapannya, lalu menarik nafas panjang.

“Saya ndak mau makan di tempat yang mengambil hak orang lain,” ujarnya ketus, sebelum berlalu.

Lastri melongo di tempatnya, mengekori langkah lelaki itu dengan tatapannya.

Mengambil hak orang lain? Hak siapa? Siapa mengambil hak siapa? Dirinya?

“Hoi, Mas!” Lastri meletakkan pisaunya, bergerak hendak meminta penjelasan. Tapi ibunya keburu muncul dari luar tenda.

“Mau kemana, kamu?”

Lastri urung bergerak. Dengan canggung meraih kembali pisaunya. Ibu menatapnya heran.

“Sudah Ibu bilang, jangan pakai kerudung yang aneh-aneh begitu. Kamu jadi susah bekerjanya.”

Lastri tak menjawab. Ia mengiris timun sambil menyadari bahwa salah satu pengait kerudungnya lepas. Sore ini ia mengenakan pashmina lebar warna orange terang yang dililit berkali-kali dan dijepit dengan bros besar. Meniru tren yang dilihatnya di tivi. Mengamati wanita-wanita masa kini yang heboh dengan hijab berbagai gaya tanpa peduli lagi kata syar’i. Kemarin Ibu membelikannya sebuah bergo panjang di pasar, serupa dengan yang biasa dipakai Ibu sehari-hari, kerudung instan panjang sederhana. Tapi sekali-kali ia juga ingin tampil beda, mengikuti zaman.

“Ulurkan kerudungmu ke dada, bukan dilipat-lipat seperti siput begitu! Mana ada orang jualan pecel lele pakai dandanan begitu?” omel Ibu suatu hari saat ia ketahuan sedang mencoba gaya turban yang sedang in.

Lastri mengerti kelembutan hati ibunya, meski omelannya terkadang membosankan. Hidup hanya berdua dengan wanita itu, membuat Lastri tahu setiap omelannya adalah penanda sayangnya. Lastri hanya masih labil, kadang.

“Bu...”

“Ya?” Ibu beringsut membenahi piring-piring rotan.

“Di acara kelulusanku nanti, kita nggak jualan dulu, nggak pa-pa?”

Ibu menghentikan gerakan tangannya. “Nggak pa-pa. Ibu senang kamu lulus dengan nilai bagus. Paling nggak, kerja keras Ibu menyekolahkan kamu nggak sia-sia. Kalau kamu punya ijazah SMU, paling nggak bisa kerja di toko grosir, atau jadi kasir supermarket. Jangan ikut-ikutan kayak Ibu begini.”

“Pekerjaan kita kan halal, Bu,” sergah Lastri, “Kenapa aku nggak boleh ikut-ikutan? Apa karena ada yang bilang kita mengambil hak orang lain?”

Ibu mendesah. “Lelaki berkaca mata itu?”

“Ibu tahu?” Lastri terkejut.

“Dia pernah lewat dan bilang ke Ibu, bahwa kalau kita berjualan di trotoar, berarti kita mengambil hak pejalan kaki. Trotoar ini dibuat untuk mereka, bukan untuk kita. Begitulah.”

Mata Lastri seketika berkaca-kaca. “Terus... kita harus jualan dimana, Bu?”

Ibu menarik nafas panjang. “Lastri, di dunia ini, kita akan banyak bertemu orang-orang yang pandai mengkritik, tapi tidak bisa meninggalkan solusi sama sekali. Kita yang dikritik, maka kita sendiri yang wajib memikirkan solusinya, Nduk.”

Air mata Lastri luruh satu-satu.
***

Sore itu Lastri kembali memandangi ijazah SMU-nya. Itu adalah hal terbaik yang pernah Ibu berikan padanya: pendidikan. Walaupun Ibu hanya seorang janda lulusan SD, Ibu ingin Lastri sekolah lebih tinggi. Lastri bersyukur memiliki harapan yang mampu dimekarkan ibunya meski hanya sampai SMU.

Ia melangkah ke trotoar itu. Hari ini mereka libur berjualan, tidak sempat belanja karena acara kelulusan Lastri berlangsung sampai siang. Trotoar selebar dua meter itu seperti biasa dipenuhi sampah saat ia sampai. Mengenakan bergo panjang berwarna biru laut, Lastri tampak nyaman dan anggun. Ia menunggu lelaki itu.

“Hai Mas,” sapanya saat lelaki itu melintas.

Wajahnya terlihat lelah, dan ia sedikit bingung melihat tenda tidak terpasang seperti biasanya. Juga gadis di depannya yang menampakkan sorot mata berbeda dan dandanan yang lebih sederhana tapi manis. Sorot mata itu penuh percaya diri.

“Aku sudah lulus SMU. Nanti aku akan bekerja jadi kasir supermarket. Aku, dan ibuku tidak akan lagi mengambil hak orang lain seperti yang Mas bilang. Kami minta maaf sudah mengganggu hak pejalan kaki seperti Mas. Terima kasih.”

Lelaki itu melongo. Lastri melangkah meninggalkan trotoar itu tanpa menunggu jawaban. Langkahnya penuh harapan dan mimpi yang baru. Mimpi sederhana untuknya dan ibunya. ***

#dimuat di majalah Suara 'Aisyiyah edisi Oktober 2013

Thursday, 9 January 2014

Mencintai Versi Saya

Hari Minggu kemarin saya sakit. Mendadak pusing hebat di pagi hari, dunia rasanya berputar saat saya bergerak. Saat itu, abi baru saja berangka futsal. Alin belum bangun, saya memaksakan diri bangkit dan memasak bubur mutiara untuk sarapan. Saya pikir, setelah sarapan mungkin akan membaik. Ternyata belum. Saya malah muntah-muntah dan makin pusing, kedinginan.

Saya lalu bbm abi dan bilang saya sakit. Baru dibalas satu jam kemudian, setelah futsal selesai. Abi bilang akan langsung pulang.

Abi datang saat saya muntah-muntah dan nyaris ambruk. Sungguh nggak tahu sakit apa itu. Hingga akhirnya, saya dipapah ke kasur, disuapi, dilayani seperti orang sakit beneran. Alin juga berkali-kali menciumi saya, bilang "Aku sayangggg banget sama ummi..."

Hari itu saya hanya tiduran dan makan. Abi memandikan Alin, mengambil baju di laundry, cuci piring, dan memasak kolak sendiri, karena malam sebelumnya saya yang janji mau memasakkannya kolak.

Anehnya saat mendengar dentingan piring yang dicuci abi, hati saya sakit rasanya. Berpikir kenapa harus abi yang cuci piring? Kenapa harus abi yang mengurus Alin hari itu? Saya rasanya nggak rela. Harusnya saya yang melakukan itu semua. Harusnya hari itu abi liburan, futsal, tiduran, dan menikmati masakan saya sambil bermain bersama Alin.

Lalu teringat dulu, waktu saya iseng nerima tawaran ngedit naskah di rumah. Saat itu, saya harus ngedit di atas jam sepuluh malam karena nggak mungkin buka laptop saat Alin belum tidur. Juga, menunggu abi rampung memakai laptopnya karena baru punya satu laptop.

Di hari kesekian, abi bilang sama saya, "Umi nggak usah ngedit lagi, sampai begadang kayak gitu. Yang nyari uang abi aja, udah tugas abi. Umi di rumah aja, jadi ibu dan guru bagi Alin. Abi nggak tega lihat umi sampai nggak tidur begitu cuma buat uang beberapa ratus ribu."

Sejak saat itu, saya nggak ngedit lagi. Memang tersiksa sih, harus begadang begitu. Belum lagi sebentar-sebentar ditanya sama yang punya naskah: udah sampai halaman berapa? Saya jadi tertekan lahir batin rasanya. *halah

Abi tetap membiarkan saya menulis, karena memang hobi dan nggak ada yang mengejar-ngejar kapan selesainya kan? 

Lalu saya mikir, mungkin yang saya rasakan saat sakit, sama kayak yang abi rasakan saat saya begadang mengedit. Betapa saat sakit itu, saya pengen cepat-cepat sembuh, biar abi nggak usah cuci piring lagi. Biar saya bisa masak lagi. Biar abi nggak melakukan apa yang biasanya saya lakukan. Mungkin saya memaknai 'cinta' dengan ini. Beda banget sama waktu muda dulu, waktu saya masih suka pacaran. Sekarang kalau dipikir, saya dulu pacaran itu konyol banget ya? "Cinta" yang saya sebut-sebut saat pacaran dulu, ternyata dangkal dan picisan banget. Malu sekali mengingatnya. Apalagi, toh nggak satu pun di antara mantan pacar saya yang akhirnya melamar saya. Haha...

Alhamdulliah, terimakasih Allah, telah memberikan jodoh yang baik dan keluarga yang hangat untuk saya. :)


from here





Friday, 20 December 2013

Wahai Ibu Penabuh Gamelan

sungguh saya tidak tahu apa yang kau rasakan. apakah tidak ada jalan lain selain duduk di bawah lampu merah, menabuh gamelan yang saya lupa apa namanya itu. mendandani anakmu yang seusia dengan putri saya dengan topeng ala topeng monyet, menyuruhnya menari, terus sepanjang hari. memunguti receh yang diberikan para pengendara yang berhenti. sementara saya selalu miris tiap kali melirik kulitnya yang legam terbakar, keringatnya yang bercucuran, dan sandalnya yang kotor terinjak kaki yang pecah-pecah.

mungkin saya tidak tahu apa yang terjadi padamu. tapi tiap kali melihat kalian di sana, saya selalu berpikir, andai saya harus bekerja, saya akan memilih jadi tukang cuci. atau pemulung. atau tukang rongsokan. atau penjual pecel keliling. atau apapun yang bisa dilakukan seorang wanita tanpa harus membawa serta anaknya di jalanan yang panas, memberi ruang lebih padanya agar bermain layaknya anak-anak. walau mungkin, pendapatan pemulung, tukang cuci, atau tukang pecel, tidaklah sebanding dengan yang kau dapatkan hari ini.

mungkin saja, suatu saat, ada alasan yang membuatmu berhenti.
semoga.

from here



Tuesday, 10 December 2013

Telanjur Cinta, Hatiku Berhenti di Hatimu


Penulis: Anita Sari & Kusumaningtyas
Penyunting: Gari Rakai Sambu

Penerbit: Eazy Book
Ukuran: 13 x 19 cm

Tebal: 208 halaman

ISBN: 978-602-7702-19-6
Harga: Rp35.000,- *)
“Kalau aku bilang, hidupku nggak akan lama lagi, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu, apa kamu rela melupakan Shone untukku?” tanya Nando tiba-tiba.
                                                      ***
Bagaimana rasanya saat orang yang terlanjur kita cintai lebih memerhatikan orang lain? Perasaan terabaikan itu harus dikecap Ishky ketika ia bertemu dengan Nando. Namun bukan pada Nando ia jatuh hati. Rasa itu tertuju pada Shone, sahabat dekat Nando. Orang yang tak pernah menganggap Ishky ada.
Ini kisah tentang rumitnya hati. Tentang rasa cinta yang bisa dengan mudah muncul, lalu lenyap sekejap mata, tanpa bisa hati mengerti.
Akankah takdir berpihak pada Ishky?


Wednesday, 20 November 2013

Mengingat-ingat Lagi

Entah bagaimana awalnya, hari ini saya sms-an dengan seorang teman. Dari cerita soal kehamilan saya sampai kerepotan kami sebagai emak-emak. Dan... ujung-ujungnya saling mengeluhkan banyak hal. Merasa diri paling malang dan lelaki adalah makhluk yang enak-enak saja hidupnya karena nggak harus begini-begitu.

Hingga saya membuka lagi ingatan tentang bagaimana seharusnya seorang istri. Bagaimana harusnya seorang suami. Mencari-cari lagi seperti apa tanggung jawab seorang lelaki di hadapan Allah kelak. Ternyata banyak sekali. Ternyata nggak semudah itu, nggak seENAK itu.

Pada akhirnya saya harus mengingat-ingat lagi. Di rumah inilah saya menjemput pahala. Dari tumpukan baju kotor dan piring yang berantakan. Dari rengekan si kecil dan kesibukan suami mengais rezeki hingga kadang membuat saya merasa tersisih. Dari aroma masakan yang sering melekat di badan. Dari tangan yang beranjak kasar dari waktu ke waktu. Dari tubuh yang semakin terasa lemah seiring membuncitnya rahim. Dari seberapa banyak makanan yang saya muntahkan dan berapa banyak waktu yang saya habiskan di kamar mandi hanya karena mual-mual. Dari janji-janji yang terus saya ingat dan belum dipenuhi karena banyak alasan.

Hanya karena saya disayang Allah, maka saya merasakannya. Tidakkah saya beruntung? Dan, pantaskah saya mengeluh?

"Tidak patut manusia bersujud kepada manusia, andai manusia boleh bersujud kepada manusia, maka aku perintahkan kepada wanita bersujud di depan suaminya, mengingat besarnya hak suami atas istri. Demi dzat yang jiwa ragaku berada dalam genggaman tangan-Nya, andaikata sekujur tubuh suami, dari kepala sampai kaki penuh dengan luka yang berdarah dan bernanah, lalu sang istri menjilatinya, dia belum dapat melunasi haknya.” (HR. Ahmad)


Monday, 30 September 2013

Jilbab Pertamaku


from here


Minggu-minggu ini blog temen-temen lagi membahas jilbab. Saya jadi pengen ikutan nulis. Tapi nggak mau ngomongin soal Islam yang begini atau begitu, sih. Cuma pengen cerita aja.

Saya sebenarnya sudah lupa kapan pertama kali mengenakan jilbab, terakhir saya ingat akhir tahun 2006. Tapi sepertinya bukan, karena akhir 2006 saya berangkat ke Jogja, dan waktu berangkat itu saya sudah lumayan lama berjilbab. Mungkin akhir 2005 atau pertengahan 2006.

Berawal dari novel yang dipinjamkan seorang saudara saya, Ada Merpati Ingkar Janji-nya mas Sakti Wibowo. Ceritanya tentang Dian yang ditinggal ayahnya pergi tanpa pesan (yang dimaksud dengan merpati yang ingkar janji) sehingga membuatnya harus membantu perekonomian keluarga, di tengah kehidupan kampung yang masih serba terbatas. Saya lupa kisah detilnya, tapi intinya, Dian akhirnya mengenakan jilbab pertamanya, setelah berkenalan dan bergaul dengan suatu majelis di masjid, setelah ia mengenal perempuan-perempuan berjilbab yang sangat baik padanya.

Novel ini saya pinjam gantian dengan teman-teman, lupa siapa saja yang pinjam. Tapi anehnya hanya saya yang setelahnya menangis meraung-raung sendiri di kamar. Di sudut ranjang, memeluk lulut, saya merasa telanjang. Saya entah saat itu ingin bicara sama Allah atau entah apa rasanya, saya berpakaian, tapi merasa sangat hina. Saya baru merasakan itu sekali seumur hidup. Berpakaian tapi merasa telanjang. Lalu merasa nggak pantas bicara padaNya, dan saya hanya bisa menangis. Menangis lama sekali. Saya merasakan rindu yang aneh. Rindu yang meledak-ledak di dalam diri, sulit digambarkan. Dan rindu itu baru terlepas, saat saya mengenakan jilbab. Perasaan yang aneh. Ini adalah perasaan paling indah yang pernah saya rasakan, dan sampai sekarang masih sering saya rindukan. Tapi sayangnya setelah bertahun-tahun, saya belum merasakannya lagi.

Saya lalu mendatangi satu-satunya perempuan berjilbab di daerah RT saya. Meminta pendapat, bertanya-tanya banyak, sampai akhirnya ia meminjami saya banyak buku dan kertas-kertas yang saya butuhkan, tentang Islam, tentang jilbab.

Jangan dikira saya langsung pakai jilbab saat itu juga. Saya bilang sama emak, dan dijawab. “Ora usah, mengko malah elek.”

Tapi saya nekat, berbekal jilbab bekas yang dikasih sama budhe saya (ujungnya sedikit robek), saya mulai berjilbab. Kemarin sempat bercanda sama seorang teman yang bilang, dia nggak pakai jilbab karena nggak punya jilbab. Yah saya ketawa aja sih. Saya aja awal jilbaban pakai jilbab bekas, kok. :D

Emak, walaupun sempat bilang ‘jangan’, tapi nggak pernah benar-benar melarang. Akhirnya malah ia membawakan saya jilbab-jilbab bekas anak majikannya yang nyantri di kota. Alhamdulillah.

Soal baju, saya pakai apa yang ada saja. Kemeja panjang ijo, celana jins biru, eh jilbabnya coklat. Karena adanya cuma itu, sih. Oya, waktu itu saya pengangguran. Seringnya ke pasar untuk mengeposkan naskah cerpen saya ke koran Tren, nah tetangga suka tanya, kalau saya keluar begitu, “Mau pengajian dimana to, nduk?”

Satu persatu, akhirnya jilbab saya mulai lumayan, walaupun itu yang tipis lima ribuan beli di pasar. Saat itu, saya merasa sangat bahagia. Kerinduan-kerinduan aneh itu membuat saya merasa lebih baik. MasyaAllah, sampai sekarang ingin merasakan kerinduan seperti itu lagi... :)

Sebenarnya soal akhlak jilbaber yang ‘buruk’, saya termasuk pelakunya. Awal-awal ke Jogja, saya mulai malas-malasan baca Qur’an. Malas mencari ilmu agama lagi. Sampai akhirnya... pacaran. Iya, saya pengguna jilbab yang buruk. Dan saya menyesali itu sampai sekarang. Berharap ada bagian-bagian hidup yang bisa saya hapus pakai penghapus karet. Ya Allah, betapa saya ingin kembali...

Sekarang, saya hanya bisa bercermin. Berharap menemukan pantulan diri saya di balik cermin itu, yang lebih baik dari yang dulu. Sekarang mulai risih pakai celana jins. Sebenarnya suami nggak memasalahkan sih, kan saya nggak pakai yang ketat, dan baju selalu menutup sampai paha. Kerudung menutup sampai dada. Hanya saja ya itu, sayanya risih sendiri. (Saya di sini nggak menyebut pakai jins itu ‘buruk’ ya, mohon nanti jangan mengatakan saya sok suci karena kalimat ini :p).

Sekarang, di lemari saya ada lebih dari 30 kerudung. Berbagai warna, berbagai ukuran. Hanya saja, saat menatapnya, saya tidak bisa menemukan ‘warna’ yang saya rindukan ketika itu. Saya tidak menemukan kerinduan yang meletup-letup seperti saat selesai membaca kisah Dian dalam novel itu. Dan... saya merindukan perasaan itu...

Mungkinkah iman saya sebegitu tipisnya, ya Rabb... hingga belum KAU ijinkan rindu yang indah itu datang kembali?

Oya, satu hal yang paliiiing ingin saya perbaiki adalah: tulisan saya.
Saya ini berjilbab lho ya, tapi tulisan saya kok tentang orang pacaran. L Ya Allah, ampuni saya...
Kemarin waktu dapat info kalau novel saya cetak ulang, rasanya bukan senang, malah ketar-ketir. Berarti semakin banyak dong yang nanti baca novel saya?

Ada novel duet saya yang sebentar lagi terbit, masih tema itu-itu juga. Dan saya mengedit banyak adegan tanpa ijin dari teman saya. Jadi, teman saya ini penggemar komik berat. Nah, tulisannya mirip komik. Tapi bukan itu masalahnya sih. Masalahnya dia membuat banyak sekali adegan kontak fisik, entah itu hanya merapikan rambut si cewek atau bersandar di bahu si cowok, sampai adegan berpelukan sambil menangis. Nah, adegan-adegan ini saya hapus semua tanpa bilang ke dia dulu. :v
Yah, namanya juga mau memperbaiki diri. Maaf ya Mbak... :D

Sekarang, saya sedang nulis novel yang dari kemarin halamannya nggak nambah-nambah (hehehe...). Ingin sekali, menjadikan itu novel yang santun. Yang nggak ada pacarannya. Yang nggak galau cinta-cintaan saja. Walaupun nggak novel Islami juga. Tempo hari saya ditawari menulis cerpen untuk majalah Suara ‘Aisyiyah (milik Yayasan Muhammadiyah). Cerpennya Islami yang super pendek. Nggak tahu sekarang sudah terbit atau belum, tapi saya senang, menganggap itu permulaan yang baik. Honornya nggak jelas juga gimananya, tapi saya senang, intinya sih :D.

Hmmm... tambahan ya. Ini sekadar cerita. Bukan ingin dianggap baik. Bukan karena sok suci. Sesungguhnya wanita berjilbab nggak ada yang suci. Mereka hanya wanita-wanita yang ingin mentaati perintah Allah saja, paling tidak dengan begitu, mereka terhindar dari dosa ‘meninggalkan kewajiban’. Menurut saya, sih gitu. :)




Friday, 27 September 2013

Serangan Debu

Dua bulan terakhir ini saya galau karena serangan debu yang wow banget. Karena jalan depan rumah belum dikeraskan, maka tiap ada motor ada mobil lewat, wuuuussshhh debunya terbang masuk rumah. Emang sih pintu selalu saya tutup tapi nyatanya lantai rumah yang barusan dipel pun dengan cepat berdebu lagi. Daun-daun di pinggir jalan pun sudah tidak hijau lagi, mereka menjelma dedaun coklat pekat yang nggak enak dilihat.

Daerah sini beda dengan daerah di kampung saya yang saat kemarau panjang tanahnya merekah alias mlethek-mlethek dan nggak terlalu banyak debu. Di tanah berpasir ini, debunya lumayan mengerikan. 

Dan semalam sebelum tidur, Alin panas. Panik sih karena hanya punya bodrexin di kotak obat dan dia nggak doyan. Akhirnya semalaman saya susah tidur, memegang tangannya takut panasnya terus naik dan berakibat nggak baik. Tapi syukurlah nggak ada yang terjadi sampai pagi datang, kecuali Alin yang terus mengigau, nggak seperti biasanya. Paginya langsung kami bawa ke bidan, dan benarlah bu bidan bilang, hati-hati dengan debu. Apalagi kami tinggal di jalur delman, dengan kotoran kuda yang mengering di jalan-jalan, katanya itu sangat berbahaya bila terhirup.

Ya sudahlah, untungnya Alin gampang minum obat meskipun makannya akan susah selama sakit.
Wahai hujan, cepatlah datang...

from here

Wednesday, 25 September 2013

Sambel Ati Apa Adanya



Lagi pengen masak ati. Berhubung gak ada kentang, yang di kulkas cuma tahu, ya udah apa adanya aja deh. :D

Bahan:
1/2 kg ati-ampela ayam
tahu coklat, potong suka-suka

Bumbu halus:
*empat butir bawang merah
*empat butir bawang putih
*kencur seruas jempol
*cabe merah kriting sesuai selera
*dua butir kemiri

Tambahan:
*tiga lembar daun jeruk
*tomat ukuran sedang, belah-belah
*cabe rawit 10 buah, biarkan utuh
*daun salam dua lembar

#Goreng ati ampela sampai kering, campurkan dengan tahu yang sudah dipotong
#Tumis bumbu halus, tambahkan bumbu tambahan
#Masukkan ati dan tahu, tambahkan air, gula merah, kaldu ayam bubuk, garam, dan saus tiram
#Tutup wajan agar bumbu meresap
#Angkat bila air sudah surut
#Taburi bawang goreng

Ini resep dari tetangga yang kebetulan punya kantin, saya suka banget deh kalo dikasih makanan sama dia, hoho... Enak soalnya :D

Saturday, 7 September 2013

Repot

Tadi pagi, saat makan di warung pecel langganan sejak penganten baru dulu, saya bertemu seorang wanita cantik. Ia memakai kemeja kotak-kotak ketat, rok sepan hitam ketat, stocking, sepatu highheels, rambut tersanggul rapi dan menenteng tas hitam berukuran sedang. Wanita ini datang bersama teman-teman prianya, kayaknya sih mereka dari sekolah pramugari atau entah pegawai hotel di dekat situ. Melangkah tertatih-tatih di tanah berbatu yang nggak rata, wanita ini tampak repot mencari pegangan. Saya sempat mikir, dengan dandanan begitu kenapa nggak makan di resto yang lantainya alus biar nggak berkali-kali pengen jatuh?


here


Ketika mau duduk, karena roknya sangat sempit, ia harus berpegangan pada seorang teman prianya, hati-hati sekali menjulrkan kakinya ke kolong meja panjang khas warung pinggiran. Saat pecelnya datang, mbak ini makan dengan perlahaaan sekali. Ia hanya menggunakan tiga jarinya untuk memegang sendok, sementara jari manis dan kelingking dibiarkan bebas sehingga terlihat anggun. Ibu jarinya dibikin bengkok saat memegang sendok, jadinya seperti di pilem-pilem Barbie yang sering saya tonton sama Alin itu penampakannya. Ngomong-ngomong itu yang disebut table manner-kah? Hehe...

Betapa repotnya.
Saya jadi ingat, waktu muda dulu, saya juga pengen cantik. Ingin menjadi pusat perhatian layaknya orang-orang cantik itu. Yah, namanya juga anak perawan, saya juga termasuk yang aneh-aneh tingkahnya. Seolah sebagai orang cantik, semua hal jadi lebih mudah dilakukan. Padahal ternyata, nggak selalu begitu, ya? :D

Sekarang, saya bisa makan lahap tanpa peduli kanan-kiri. Pakai sendok yang caranya biasa aja. Kalau keluar cukup pakai Parasol sama bedak tabur murahan dan lipstik sheer yang biasanya ilang dalam satu jam. Saya paling nggak tahan pakai hak tinggi, pegel di kaki. Pakai itu hanya waktu nikah, itu pun karena terpaksa, dan hampir jatuh pula.

Mbak cantik yang saya lihat tadi, mungkin sebenarnya nggak merasa repot. Sayanya aja yang karena nggak pernah dalam posisi dia, merasa itu repot. Mungkin, ya... :D Kan dia sudah terbiasa seperti itu, sudah merasa nyaman dengan caranya sendiri. Seperti halnya saya nyaman dengan gaya serampangan saya selama ini. Ahahaha...

*yang paling nyaman adalah saat menerima diri sendiri. Walau tidak cantik, walau tidak anggun. Yang penting tidak repot. :D

Saturday, 24 August 2013

Kisah Sederhana

Kisah ini sederhana. Tentang gadis cilik menjelang empat tahun yang malas ke sekolah. Di sekelilingnya tetangga-tetangga bersepeda. Ini hari Sabtu, sekolah teman-teman di perumahan libur.
Gadis cilik itu riang berlari, menghampiri sepedanya. Ia suka protes kenapa sekolahnya tetap masuk di hari Sabtu, padahal sekolah lainnya libur? Kenapa?

"Aku nggak mau sekolah. Aku mau main aja."
Baiklah. Seketika itu juga saya mulai mengingat-ingat. Seolah menghitung hari yang berlalu sejak gadis manis itu mengikuti upacara bendera untuk pertama kalinya. Sebulan? Lebih? Kemarin libur hari raya agak lama, dan saat masuk gadis itu sangat bersemangat menghampiri bangkunya. Hari demi hari berlalu dan ia selalu dipuji guru saat mewarnai.

"Mewarnainya bagus sekali, pintar."

Gadis itu hanya nyengir dan mengamati kawan-kawannya yang tidak sibuk sesibuk dirinya. Oh kenapa mereka tidak sibuk? Karena ada ibu yang menggantikan mewarnai. Beruntunglah gadis itu sangat suka mewarnai, ia tidak butuh bantuan siapapun dalam hal ini.

"Aku udah selesai." Dia bangkit beberapa saat kemudian, menyerahkan bukunya.
Bu Guru menyambutnya lalu memberikan bintang empat di buku itu. Lalu ia tak bisa menahan diri untuk tidak keluar kelas.

"Alina, nggak boleh main dulu. Ayo masuk lagi."

from here

Sesungguhnya ia tak terlalu peduli. Yang ia tahu, saat jam istirahat nanti ia tidak akan bisa menikmati perosotan idamannya itu, karena anak-anak tertentu akan memonopolinya, mendaki dari arah berlawanan hingga ia tak bisa meluncur turun setelah menaiki tangga. Yang ia tahu, ia hanya bisa menikmati perosotan itu saat anak-anak lain sibuk di dalam kelas. Tenang saja, ia pasti dimaklumi. Ibu guru sering sekali bilang. "Aduh, Alina ini masih terlalu kecil."

Sudah sekian lama. Tanpa seorang teman pun. Tidak satu pun bermain dengannya saat jam istirahat. Sesekali mulut kecilnya memanggil nama-nama yang bisa dia ingat, tapi anak-anak yang dipanggilnya terlalu sibuk untuk sekadar menoleh. Gadis manis itu menyendiri, hanya menyaksikan keramaian sekolah kecilnya dari jauh.

Kadang lelah rasanya. Asing dan sedikit menyenangkan. Ia suka lokernya, tempat ia menyimpan barang-barang yang diberikan guru. Fotonya yang dipasang di loker itu terlihat manis, mungil dengan dahi yang terlihat sangat lebar saat tak perponi. Ia menyukai ayunan dan perosotan warna-warni itu. Ia suka saat memasukkan uang seribu ke dalam kaleng yang diedarkan bu Guru untuk makan snack bersama sebelum istirahat.

Meski sebenarnya lebih banyak lagi yang tidak ia mengerti. Kalimat-kalimat panjang gurunya saat ada temannya yang nakal: "Nek kowe nakal koyo ngono, sesuk tak tulis surat kanggo bapak ibumu, ben kowe dipindah neng sekolah kono kae, ben dadi kancane cah-cah sing nek ngomong 'a uk... ah uk' ngono kae."

Saat itu, gadis itu tidak ikut tertawa saat seisi kelas menertawakan guru yang sedang menirukan orang tuna wicara. Karena toh ia tidak mengerti bahasa panjang tadi. Ia tidak juga pernah melihat anak yang bicaranya seperti itu, jadi ia tidak merasa itu lucu. Dan, tidak juga mengerti bagaimana bisa seorang guru mengejek orang cacat semacam itu.

Gadis itu sendirian, lagi. Memandang kejauhan. Teman-temannya sedang riuh bernyanyi di kelas, diselingi suara guru yang sesekali berkata, "Ayo, yang ribut sendiri tak suruh keluar sana, nggak usah ikut belajar temannya. Yang nggak nyanyi berarti dapatnya nol nggak dapat bintang."
Ia berpindah cepat dari perosotan, menghampiri ayunan merah muda kesayangannya.

Ayunan itu bergoyang perlahan.
Nanti sepulang sekolah, ia juga akan berkata pada boneka-bonekanya, menirukan bu Guru dengan kalimat favoritnya saat jam istirahat. "Adik, Sarinah, Annisa, Gufi... kalo main nggak boleh nakal-nakalan, ya... Ntar dikeluarin dari sekolah sama Bu Guru."

Ayunan itu bergoyang. Menunggu jam pulang.[]


Wednesday, 24 July 2013

Padahal

padahal sebenarnya, kau sudah mempermainkan hati perempuan itu sejak awal.
kau lupa. mungkin memang tak punya waktu menyadarinya.
padahal sebenarnya, perempuan itu yang lebih dulu jatuh cinta.
kau lupa. memang sengaja melupakannya. mungkin saja.

jadi jangan salahkan ia
yang sekarang bahagia.
melebihi kisah yang kau tulis di buku-buku kenangan itu
lalu berkata padanya, "berbahagialah..."
kau bilang karena kerap mencemaskan dirinya.
bagaimana kalau ia luka. bagaimana saat ia menangis. bagaimana saat kabut turun di matanya.

padahal ia bahagia.

percayalah.
saat kau percaya, saat itu pasti, kau telah termaafkan.
dan terlupakan.
maka lupakanlah...

from here

Monday, 8 July 2013

Esok

Kabarnya, Ramadan datang esok hari.
Saya di sini, masih saya yang biasa. Masih pemalas. Masih suka mengantuk saat memasak. Masih suka mengulur waktu bangun kemudian batal tahajjud sebelum sahur.

Saya harap saya membaik. Bersama kalian, menghitung jam demi jam. Beriringan menuju masjid. Saya bersyukur. Entah apa jadinya andai kita dulu tak dipertemukan.


from here

Wednesday, 26 June 2013

Sometimes

Kadang saya mikir, mungkin orang yang menutup diri itu hidupnya lebih tenang. Walaupun dia dikatain antisosial. Aneh. Tapi dia nggak terganggu sama orang-orang di sekelilingnya. Dia bisa memilih dengan siapa ia bicara. Dengan siapa mau tersenyum. Dia memilih orang-orang tertentu yang walaupun sedikit, membuatnya nyaman. Bisa menutup pintu rapat-rapat dan asyik dengan dunia sendiri. Tak perlu ikut tertawa saat orang lain tertawa, dan tetap diam saat orang lain bicara.

Dan saya, kadang juga ingin seperti itu.


from here

Tuesday, 25 June 2013

Review: The Coffe Memory

saat aroma kopi itu menjauh,
kusadari bahwa kau tak mungkin kutemui lagi.
seperti aromamu yang terempas oleh butir udara,
meninggalkanku dalam sunyi yang dingin.

sampai kusadari kau hadir, menyergapku dalam diam,
mengembalikanku dalam kenangan.
dan, menabur aroma yang sama dengan apa yang telah kutinggalkan.
ketika itu aku pahami,
aku tak mungkin berpaling lagi.


Judul : The Coffee Memory, Ketika Aroma Cintamu Menyergapku
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka (Pustaka Populer)
ISBN : 978-602-7888-20-3
Harga : Rp39.000,-
(keterangan nyontek di reviewnya mas Rizki)

Kemarin ditodong mas Rizki buat review novel ini, yah karena dianya juga yang merekomendasikan The Coffe Memory yang menurutnya pas dengan apa yang saya cari: novel dewasa yang tidak meninggalkan ke-Islaman tapi juga nggak Islami banget alias nggak bertabur kutipan ayat dimana-mana. Halah. xD

Saya suka bungkusnya yang unik, seperti kopi beneran. Dan isinya buku bersampul penuh kopi pula. Walaupun nggak gitu suka sama warna emas pada tulisan judulnya karena silau dan nggak terlalu kelihatan karena berlatar coklat.

Dania, wanita penggemar kopi yang baru saja ditinggalkan suaminya dan mendadak harus melanjutkan kehidupan di kafe yang dipenuhi banyak kenangan. Kenangan tentang suami yang telah tiada ini membuat saya teriris perih. Rasanya ikutan sedih beneran. Nah, kafe penuh memory inilah yang akhirnya mempertemukan Dania dengan Barry, barista keren yang sangat perhatian padanya, dan Pram, seorang lelaki di masa lalunya. Kedua lelaki ini sempat membuat Dania galau karena keduanya sama-sama jatuh cinta padanya. Yah, walaupun akhirnya dia memilih satu saja. *Yaiyalahhh xDD*

Walapun di bab awal saya sempat bingung karena alur yang maju-mundur, tapi akhirnya bisa menikmati sampai akhir.

Saya suka cara mbak Ria menggambarkan nikmatnya kopi hitam. Saya yang sama sekali nggak doyan, jadi bisa membayangkan enaknya lho... :D Suka dengan bagaimana hubungan antar lawan jenis dituliskan: mereka nggak pacaran, dan hampir nggak ada adegan kontak fisik di sana (ada tapi ceritanya si wanita menolak disentuh). Di beberapa bagian kadang saya merasa bahwa ini ditulis dengan buru-buru (sok tau xD)tapi tetap saja penasaran membuka lembar demi lembarnya. Oya, info-info dunia bisnis dan dunia kopi bertebaran di novel ini, membuat saya yang penggemar teenlit akut ini melongo takjub *halah*.

Mungkin saya akan baca buku si mbak yang lain, karena sejujurnya saya pengen juga nulis tentang kisah suami-istri gitu, tapi tetap dengan santun. Yah, kayak di novel ini misalnya.

Selamat berkarya ya Mbak Ria.
Maaf ye... ini pertama kali bikin ripiu, jadi harap maklum kalo aneh. Haha... xDD

Friday, 21 June 2013

Berhenti Sejenak

nulis ya nulis. revisi ya revisi.
impian ya impian.
tapi kalau terdengar adzan, berhentilah sejenak.
salatlah dan memohonlah.
karena besok-besok kalau kau mati, kau tidak bisa menulis apa-apa lagi.
dan malaikat tidak sudi menanyakan berapa banyak novel yang kau buat.

==REMINDER FOR MYSELF==

Kisah Dari Balik Jendela

Dari Balik Jendela adalah novel yang saya tulis berdua dengan seorang teman, kakak kelas waktu SMA, mbak Tyas atau sering saya panggil yayank. Eitss, jangan dikira lesbong loh yaa...

Dalam beberapa bulan ke depan InsyaAllah novel ini terbit. Sedang direvisi untuk dipendekin jadi maksimal 140 halaman saja dan kami mendadak puyeng karena lebih baik mengembangkan cerita daripada mengkerdilkannya. *halah*

Yang paling saya ingat adalah ketika Mbak Tyas menulis bab-bab novel itu dalam loose leaf, lalu lembaran-lembaran itu dikirim lewat pos ke saya. Oh iya ceritanya mbak Tyas tinggal di Wonogiri dan saya di Jogja. Paling ingat bagaimana saya mengetik tulisan itu di laptop pinjaman dari suami sementara suami saya pakai laptop milik kantor. Kerasa banget perjuangannya. Dan yang terasa berat itu selalu lebih terasa berharga.

Saya bersyukur naskah ini langsung diterima seminggu setelah dikirim. Walaupun memangkas halamannya membuat kami agak puyeng. Tapi sekali lagi, yang terasa berat itu selalu lebih terasa berharga.


Thursday, 20 June 2013

Tidak Ada Judul

Oh Allah kepadamu aku memohon ketenangan hati
dan jadikan aku hambaMu yang pandai menjaga diri.

Amin.

Thursday, 22 November 2012

Perihal Rumput

karena kita tidak berada di taman yang sama maka rumput tetangga terlihat lebih hijau. karena kita tidak tahu mungkin di taman itu banyak ulat bergigi rapat pemangsa daundaun. karena kita tidak melihat mungkin ada kubangan air yang bisa merendam akar-akar hingga membusuk. karena juga, kita tidak jeli melihat taman kita sendiri. mengamati indahnya embun pagi di rerumputan. atau tunas bunga desember yang sedang belajar tumbuh.